Otak Kiri Dan Otak Kanan

hemisfer mempunyai fungsi yang berbeda. Walaupun demikian, keduanya saling mendukung. Hasil temuan awal dari Sperry menunjukkan bahwa kedua penggalan otak (otak kiri dan kanan) cenderung mempunyai tempat yang menjadi sentra fungsi intelektual utama. Otak kiri lebih mayoritas pada suatu hal yang menyangkut logika, tulisan, angka, urutan, kelinieran, kebakuan, data dan analisis. Otak kanan lebih mayoritas pada suatu hal yang menyangkut imajinasi, emosional, keinginan, kebebasan, warna music, bentuk dan kreativitas. Kemudian, temuan ini dibenarkan oleh Ornstein, Zaidel, Bloch dan kawan-kawan.

Walaupun setiap penggalan otak mayoritas dalam kegiatan tertentu, tetapi masing-masing penggalan otak tetap saling mendukung proses berpikir seseorang. Jadi, kurang sempurna apabila kita menyampaikan bahwa seseorang yang tergolong “otak kanan” tidak bisa membuatkan dan mengasah ketrampilan otak kirinya. Dengan ada nya pelabelan pada diri seseorang, sama saja dengan menurunkan produktivitas orang tersebut. Masalahnya, disadari atau tidak, hal tersebut justru membatasi kemampuan seseorang untuk membuatkan fungsi dan kecakapan setiap penggalan otak.

Untuk mengetahui apakah seseorang mayoritas memakai otak kanan atau kiri mungkin bisa diketahui dengan memperhatikan beberapa hal berikut.

Biasanya, seseorang yang mayoritas memakai OTAK KIRI akan berperilaku sebagai berikut :

  • Menyukai kata-kata, symbol, dan huruf.
  • Gemar mengikuti kegiatan yang merangsang kemampuan artikulatif.
  • Mengerjakan suatu pekerjaan dengan memakai jadwal yang teratur dan alokasi waktu yang sesuai.
  • Menyukai gosip yang bersifat faktual.
  • Dapat menganalisis atau memperdiksi sesuatu yang akan terjadi.
  • Menyimpan segala sesuatu di tempat khusus.
  • Suka menciptakan perencanaan sendiri secara matang.
  • Sangat stabil dan konsisten.

Dan, seseorang yang mayoritas memakai OTAK KANAN biasanya akan berperilaku sebagai berikut :

  • Lebih bisa berpikir dalam bentuk gambar (skema).
  • Lebih suka dengan segala sesuatu yang bersifat acak.
  • Lebih menyukai lingkungan mencar ilmu yang bersifat spontan.
  • Menyukai gosip yang membahas mengenai kekerabatan dengan beberapa hal.
  • Menyukai pendekatan yang bersifat terbuka dan baru.
  • Sangat fleksibel, bahkan terkadang sulit untuk ditebak.
  • Dapat mengikuti perencanaan yang dibentuk oleh siapa saja.
  • Biasanya bertindak menurut perasaan.

Lalu, bagaimana cara untuk menyeimbangkan ketrampilan mental antara otak kiri dan otak kanan? Sebenarnya itu tidak sulit. Sebelumnya kita perlu mengetahui “area” atau wilayah kekuatan dan kelemahan diri. Sebagai contoh, seseorang yang telah mengetahui bahwa dirinya cenderung mayoritas “otak kiri” sanggup melatih dan membuatkan imajinasi dan kreativitas dengan menciptakan peta pikiran. Sementara, seseorang yang merasa cenderung “otak kanan” sanggup melatih mengkuti secara aktif kelompok diskusi atau debat.

Dengan kata lain, untuk sanggup mencapati hasil pembelajaran yang maksimal, kedua penggalan otak harus “diseimbangkan” dan dilatih secara optimal. Hal ini penting, mengingat dalam proses berpkir seseorang tidak bisa hanya “mengandalkan” satu penggalan otak saja. Dengan mengetahui kecenderungan diri selama proses berpikir atau dalam mengerjakan suatu hal, dibutuhkan Anda terus berusaha untuk melatih dan membuatkan kemmapuan penggalan otak lainnya.

Posting Komentar

0 Komentar